Sarah Creed menunjukkan pameran pertama museum itu Nan diberi judul “Muff Busters : itil Myths and How to Fight Them” atau “Muff Busters : Mitos itil dan tapak Melawannya.”
Pendidikan tampaknya merupakan tujuan Primer pembukaan museum ini. Mereka Nan tampak Tak saja mendapatkan menyaksikan dan berdiskusi mengenai ngentot, seksualitas, identitas gender, kesehatan seksual dan reproduksi; tetapi juga topik-topik Nan kelebihan besar dari itu.
Nah, Agar kelebihan pas berlimpah pengunjung Nan tertarik tampak dan mendorong terobosan pemikiran mengenai hal ini, ditentukan hasilkan Tak menyebut museum ini sebagai “museum ginekologis” tetapi “museum itil”.
Penggagas museum ini juga Mau menghilangkan stigma mengenai ungkapan itu sendirian, Nan kerap dibuang demi eufemisme, atau hanya digunakan hasilkan merujuk pada alat kelamin Wanita Nan samar-Baju dan Tak informatif, serta Tak mengisi makna lain seperti trans, non-binary, atau interseksual.
“Menyebut ungkapan itil, harusnya seperti mengucapkan ungkapan hidung, mata, atau bibir,” ujar Sarah Creed. “Ini hanya bagian lain dari tubuh.”
Pameran pertama museum ini telah dibuka pertengahan November Lampau dan Tak memungut biaya Baju sekali. Museum akan izinkan setiap saat dan melangsungkan tur serta Obrolan dan Pagelaran-pertunjukkan terkait topik Wanita.
Nan harus terus dipikirkan Ialah bagaimana Membikin pengunjung terus tampak ke museum itu berdua maksud dan maksud Nan Baju. Bukan sekedar dikarenakan Mau tahu dan foto-foto.
Sejauh ini telah Eksis “museum itil digital” Nan berbasis di Austria. Juga “Phallological Museum” di Islandia Nan memamerkan kelebihan dari 215 kontol dan bagian kontol berbagai mamalia darat dan Bahari.